Hubungan orang
tua saya dengan keluarganya sampai saat inipun bisa dikatakan kurang baik,
terlebih ayah. Ayah saya sekarang yatim piatu dan praktis yang ada sekarang
hanya orang tua dari mama. Papa tidak menyukai orang tua dari mama, sudah sejak
lama semenjak saya kecil bahkan mama pun kurang menyukai orang tuanya. Mama mengatakan
kalau kakek dan nenek selalu membeda-bedakan anaknya, anak laki-laki lebih
disayang ketimbang anaknya yang perempuan. Saya pribadi tak tahu apakah benar
adanya karena hanya mama yang merasakan.
Kakek-nenek
memberikan perhatian yang lebih kepada anak laki-lakinya, mama merasa kurang
disupport oleh mereka. Mama memulai bisnis kecil-kecilan, jualan makanan dari
warung ke warung, sekolah yang satu ke yang lain sampai Alhamdulillah punya
warung sendiri yang memberikan penghasilan yang lumayan awalnya menuai cibiran
dari kakek-nenek dan keluarga lain.
“Kakekmu,nenekmu, sodara-sodara
lain gak mau mama berhasil nak. Mereka anggap remeh apa yang mama lakukan dianggapnya gak akan berhasil dan sekarang
lihat kita punya rumah, mobil,kendaraan, biaya kamu kuliah sampai sekarang udah
kerja, adikmu sekolah apa ada sodara mama bantu? Satu rupiah gak ada. Mereka
itu sinis sama mama.”
Saya
ingat betul kata-kata itu dan masih banyak lagi. Heran, kok bisa sampai
segitunya sikap mama, dari luar terlihat rukun padahal di dalam ada perang
dingin, sirik-sirikan, ada saja gunjingan antar saudara di keluarga saya sampai
dua orang paman saya tidak pernah mengunjungi rumah kami sejak kami
membangunnya pertama kali. Di keluarga mama ada 9 bersaudara, 6 laki-laki yang
5 orang pns dan satu wiraswasta dan 3 perempuan, mama anak ke 4.
Sebenarnya memang ada yang tidak saya dengan sodoara mama. Saya pun kena
imbasnya, paman saya tidak pernah puas dengan apa yang saya lakukan. Saya yang
tidak dipedulikan dari dulu paling juga pas lebaran tegur sapa pas ngumpul
keluarga saya ditanya sekarang saya bekerja dimana. Saya sebutkan tempat
bekerja dan mereka kurang mengapresiasi dengan pekerjaan saya ini. Mereka
mungkin akan puas kalau saya sudah jadi PNS atau pegawai bank.
“Nanti
kalau ada tes pns ikut aja kan enak jadi pegawai pendapatan tetap dan dapat
pensiun, kamu gak kerja sebulan, tiga bulan atau setahun juga tetap gajian.
Kerja emang harus giat tapi pikirkan juga hari tua.” Paman yang satu menasehati
dan yang lain bicara tentang orang sukses yang dikenalnya “Siapa bilang pns itu
gaji kecil, enggak juga dapat remunerasi besar loh nanti uang nya dikumpul
terus jadi pejabat tp ya modalnya besar”. Bisa saya katakan seluruh keluarga
mama berpikiran seperti ini. Saya hanya mengiyakan gak mau menanggapi
khawatirnya terjadi debat.
Tapi
apa iya untuk memikirkan hari tua kita harus jadi pns, apa itu satu-satu
pilihan? Wajar saja paman dan keluarga lain berbicara seperti itu karena mereka
tidak pernah keluar dari kampung dan yang lain ditempatkan di daerah jadi
pemikiran seperti katak dalam tempurung, ya hanya sebatas itulah pemahaman
mereka yang di daerah pastilah pns merupakan pekerjaan bergengsi dan terbaik,
kasarnya begitu. Tapi kita yang tinggal di kota besar mungkin tidak semuanya
beranggapan, masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk menabung di
hari tua selain jadi pns dan berharap uang pensiun. Saya tidak merendahkan pns
tapi saya tidak setuju kalau itu satu-satunya jalan dan saya tidak suka konsep
“modal besar” naik jabatan apalagi jadi pejabat. Semoga Allah menjauhkan saya
dari itu.
Diantara
semua keluarga ada satu orang saudara laki-laki mama yang benar-benar baik
dengan mama. Beliaulah satu-satunya yang bukan pns tapi yang paling berada
diantara yang lain, yang wiraswasta. Hanya beliau yang mama anggap benar-benar
keluarga. Paman saya yang satu ini seorang pengusaha dan terbiasa dari satu
kota ke kota lain dan bertemu banyak klien jadi pemikirannya lebih terbuka dan
tidak suka mengarahkan saya harus jadi ini-itu sama seperti orang tua saya. Kenapa
kita tidak bisa seperti keluarga lain yang harmonis, saya selalu mengeluh
tentang itu.
Bagaimanapun
saya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga yang lain walau orang tua
saya sering mengingatkan untuk tidak terlalu dekat, tapi keluarga tetaplah
keluarga, berharap hubungan yang “dingin” ini akan segera mencair.




