Monday, August 12, 2013

Keluargaku yang Malang

Hubungan orang tua saya dengan keluarganya sampai saat inipun bisa dikatakan kurang baik, terlebih ayah. Ayah saya sekarang yatim piatu dan praktis yang ada sekarang hanya orang tua dari mama. Papa tidak menyukai orang tua dari mama, sudah sejak lama semenjak saya kecil bahkan mama pun kurang menyukai orang tuanya. Mama mengatakan kalau kakek dan nenek selalu membeda-bedakan anaknya, anak laki-laki lebih disayang ketimbang anaknya yang perempuan. Saya pribadi tak tahu apakah benar adanya karena hanya mama yang merasakan.
                Kakek-nenek memberikan perhatian yang lebih kepada anak laki-lakinya, mama merasa kurang disupport oleh mereka. Mama memulai bisnis kecil-kecilan, jualan makanan dari warung ke warung, sekolah yang satu ke yang lain sampai Alhamdulillah punya warung sendiri yang memberikan penghasilan yang lumayan awalnya menuai cibiran dari kakek-nenek dan keluarga lain.
“Kakekmu,nenekmu, sodara-sodara lain gak mau mama berhasil nak. Mereka anggap remeh apa yang mama lakukan  dianggapnya gak akan berhasil dan sekarang lihat kita punya rumah, mobil,kendaraan, biaya kamu kuliah sampai sekarang udah kerja, adikmu sekolah apa ada sodara mama bantu? Satu rupiah gak ada. Mereka itu sinis sama mama.”
                Saya ingat betul kata-kata itu dan masih banyak lagi. Heran, kok bisa sampai segitunya sikap mama, dari luar terlihat rukun padahal di dalam ada perang dingin, sirik-sirikan, ada saja gunjingan antar saudara di keluarga saya sampai dua orang paman saya tidak pernah mengunjungi rumah kami sejak kami membangunnya pertama kali. Di keluarga mama ada 9 bersaudara, 6 laki-laki yang 5 orang pns dan satu wiraswasta dan 3 perempuan, mama anak ke 4. Sebenarnya  memang ada yang  tidak saya dengan sodoara mama. Saya pun kena imbasnya, paman saya tidak pernah puas dengan apa yang saya lakukan. Saya yang tidak dipedulikan dari dulu paling juga pas lebaran tegur sapa pas ngumpul keluarga saya ditanya sekarang saya bekerja dimana. Saya sebutkan tempat bekerja dan mereka kurang mengapresiasi dengan pekerjaan saya ini. Mereka mungkin akan puas kalau saya sudah jadi PNS atau pegawai bank.
                “Nanti kalau ada tes pns ikut aja kan enak jadi pegawai pendapatan tetap dan dapat pensiun, kamu gak kerja sebulan, tiga bulan atau setahun juga tetap gajian. Kerja emang harus giat tapi pikirkan juga hari tua.” Paman yang satu menasehati dan yang lain bicara tentang orang sukses yang dikenalnya “Siapa bilang pns itu gaji kecil, enggak juga dapat remunerasi besar loh nanti uang nya dikumpul terus jadi pejabat tp ya modalnya besar”. Bisa saya katakan seluruh keluarga mama berpikiran seperti ini. Saya hanya mengiyakan gak mau menanggapi khawatirnya terjadi debat.
                Tapi apa iya untuk memikirkan hari tua kita harus jadi pns, apa itu satu-satu pilihan? Wajar saja paman dan keluarga lain berbicara seperti itu karena mereka tidak pernah keluar dari kampung dan yang lain ditempatkan di daerah jadi pemikiran seperti katak dalam tempurung, ya hanya sebatas itulah pemahaman mereka yang di daerah pastilah pns merupakan pekerjaan bergengsi dan terbaik, kasarnya begitu. Tapi kita yang tinggal di kota besar mungkin tidak semuanya beranggapan, masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk menabung di hari tua selain jadi pns dan berharap uang pensiun. Saya tidak merendahkan pns tapi saya tidak setuju kalau itu satu-satunya jalan dan saya tidak suka konsep “modal besar” naik jabatan apalagi jadi pejabat. Semoga Allah menjauhkan saya dari itu.
                Diantara semua keluarga ada satu orang saudara laki-laki mama yang benar-benar baik dengan mama. Beliaulah satu-satunya yang bukan pns tapi yang paling berada diantara yang lain, yang wiraswasta. Hanya beliau yang mama anggap benar-benar keluarga. Paman saya yang satu ini seorang pengusaha dan terbiasa dari satu kota ke kota lain dan bertemu banyak klien jadi pemikirannya lebih terbuka dan tidak suka mengarahkan saya harus jadi ini-itu sama seperti orang tua saya. Kenapa kita tidak bisa seperti keluarga lain yang harmonis, saya selalu mengeluh tentang itu.
Bagaimanapun saya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga yang lain walau orang tua saya sering mengingatkan untuk tidak terlalu dekat, tapi keluarga tetaplah keluarga, berharap hubungan yang “dingin” ini akan segera mencair.

Saturday, January 19, 2013

Asrama Mahasiswa Gokil


               Di  kampus gue, Universitas Andalas Padang ada peraturan setiap mahasiswa baru yang masuk melalui jalur PMDK dan kelas Internasional. Wajib tinggal di asrama mahasiswa selama 1 tahun. Gedung asrama terletak persis di belakang Gedung PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) itu terdapat 2 unit dengan 1 unit bangunannya 4 lantai. Satu buat laki-laki dan satu buat perempuan.
                Satu lantai terdiri dari 32 kamar dan ada 8 kamar mandi jadi 1 kamar mandi untuk 4 orang. Nah ini enaknya tinggal di asrama, gue ketemu ama temari mana-mana apalagi yang satu jurusan bakalan gampang untuk urusan tugas. Gue yangen  tinggal di lantai 4 tinggal teriak “ Woi anak TEP ( Teknik Pertanian!!! Ada yang udah ngerjain tugas pak Iwan Belom?” yang laen pada teriak“ Belom Dek” ada yang teriak “  Udah baru setengah Dek”, kontan aja anak-anak yang belum ngerjain langsung ke sumber buat tugas,, hahaha, gampang deh urusannya kl begitu.


                Perbedaan kedua, sholat subuh wajib berjamaah dan harus di absen. Waddduuuuhh, gue emang sholat subuh tapi gak berjamaah terus juga kali pak, belum lagi berjamaahnya ke masjid, mending kalo mesjidnya di samping asrama, lah ini harus jalan 500 meter ke sana. Yah mau gak mau kita harus ikut peraturan juga, jadi  jam 04.30 sekitar 1000 orang laki-laki dan perempuan keluar asrama pergi sholat subuh , udah kayak mau sholat ied. Udah kelar sholat dengar tausiyah, selesai jam 06.30 sudah itu baru bisa absen, yang repotnya kalo ada teman-teman yang masuk kuliah jam setengah 8 bakalan kocar-kacir. Kalau udah males sholat subuh rata-rata pada titip absen, kayak kuliah gitu dan pastinya ketahuan akhirnya hampir semua anak cowok asrama kena SP 1 ( Surat Peringatan 1), wah wah baru tahun pertama aja udah kena SP, kalau bonyok tau bisa-bisa gak jadi kuliah gue..
Oaaahh,, ngantuk nih ntar nyambung lagi ahh

Wednesday, January 2, 2013

Strugle Finding a Job


          25 Mei 2012, tanggal bersejarah dan membahagiakan buat gue karena tanggal itu gue udah  memanjangkan nama gue dengan embel-embel sarjana di belakangnya. Bahagianya sih tanggal itu doank besoknya udah mulai pusing cari kerja. Iya donk secara bantuan dana dari bos di rumah gak akan turun lagi, cariii sendirii.
               Dulu sering ke kampus sekarang gue malah sering ke kantor POS liat lowongan kerja. Apply lamaran ke sana kemari, dari satu kantor ke kantor lain kagak ada satupun yang dapat. Gue jadi heran, IPK bagus, komunikasi lancar, kualifikasi cocok kok gak diterima juga ya? Gue sempat mikir apa kadar kegantengan mempengaruhi diterima kerja. Soal begituan gue akuin gue sama sekali gak ganteng.
                Berkat bantuan informasi dari seorang teman akhirnya gau kerja freelance  di sebuah NGO bergeak di bidang kemanuasiaan selama 2 bulan kebetulan NGO itu butuh karyawan lebih krn bulan Ramadhan mereka bakalan sibuuk banget. Lumayanlah daripada gak kerja sama sekali, sekalian buat pengalaman kerja untuk menghiasi CV. Nah di NGO ini gue ditempatkan di bagian marketing (pastinya) dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar kantor.  Kantor-kantor yang dulunya gue masuk buat interview kerja di sana sekarang gue masuk lagi buat presentasi untuk kerja sama di NGO tempat gue kerja sekarang . Pelan – pelan gue mulai menikmati pekerjaan ini, marketing yang kebanyakan dihindari banyak orang justru itu yang membuat gue merasa tertantang. Pekerjaan inilah yang bikin gue gak merasa bosan, bertemu dengan orang yang berbeda setiap hari, jalan-jalan ke sana kemari, dapat insentif yang lebih , belajar cara mempengaruhi org de el el pokoknya “gak bosenin”. Ketika kuliah gue sering dengar persepsi kalo marketing itu gak enak, capek, dan yg paling gak disukai ya itu cari nasabah (bilang aja gak mau gengsi). Yap lebanyakan orang gak mau bekerja di bidang marketing itu karena gengsi dan takut, gengsian yang merasa tamat kuliah itu harusnya di kantor (persepsi kebanyakan orang) dan takut karena gak berani ngapedin orang yang baru dikenal,, ya kan sodara2??
                Pernah sih gue ditempartin di kantor sebagai internet marketer krn Cuma gue dari rekan2 freelance yang bisa cari dana lewat dunia maya, Baru 3 hari gue udah minta pindah ke bagian lapangan.  3 hari di kantor pinggang gue sakit kebanyakan duduk, hidung gue meleeer berairi kena AC, mata perih dan waktu terasa laaaammmaaaa banget. Tandanya gue gak cocok di air. Entah kalo elo – elo pada pengen kerja kantoran. Kl gue masih muda dan masih ngejar karir, kalo di kantor itu susah naiknya bray.
                Kalo kita menikmati sesuatu maka waktu akan terasa sangat singkat. Gak terasa aja 2 bulan udah gue kerja dan sudah waktunya gue ninggalin ni NGO karena kongtrak gue habis. Gue merasa beruntung dan berterima kasih sekali kepada rekan2  kerja dan atasan udah ngasih ilmu yang luar biasa yang nantinya bakal berguna. Hari terkahir gue dapat pertama, yess biar kecil yang penting duit ndiri. Dengan uang gak seberapa gue pulang kampung buat ngerayain Lebaran bersama keluarga, indahnyaa.
                Gue lupa hari apa, gue dapat sms dari BNI buat tes ODP di Jakarta. Gue ngomong ke orang tua tentang ini dan mereka setuju, yang penting ridho orang tua nomor satu, ya gak sob. Lagian gue juga sebenarnya gak niat-niat amat kerja di bank yang penting ke Jakarta dulu berhubung di situlah 70 % perputaran uang dan otomatis lapangan kerja lebih banyak di sana. Gue pun ngikut alur, datang ke satu jobfair ke jobfair yang lain. Alhamdulillah gue gak lolos di BNI dan diterima di sebuah perusahaan ritel terkenal di Jakarta. Di perusahaan ini pun gue ditempatkan di bagian operasional  sebagai Store Head Trainee, sampai saat ini gue enjoy dengan kerjaan ini dengan gaji yang lumayan gede plus jenjang karir yang sangat terbuka (tetep). Intinya kl kita ingin karir kita naik yah angkat itu bokong, keluar dari kantor minta ayasan pindah ke bagian operasional atau marketing, kalo mau nyante dan puas dengan gaji segitu aja, yaa gak usah. But for me Life is too short to sit on the chair my brother, sister…

             Dulu sering ke kampus sekarang gue malah sering ke kantor POS liat lowongan kerja. Apply lamaran ke sana kemari, dari satu kantor ke kantor lain kagak ada satupun yang dapat. Gue jadi heran, IPK bagus, komunikasi lancar, kualifikasi cocok kok gak diterima juga ya? Gue sempat mikir apa kadar kegantengan mempengaruhi diterima kerja. Soal begituan gue akuin gue sama sekali gak ganteng.

               Berkat bantuan informasi dari seorang teman akhirnya gau kerja freelance  di sebuah NGO bergeak di bidang kemanuasiaan selama 2 bulan kebetulan NGO itu butuh karyawan lebih krn bulan Ramadhan mereka bakalan sibuuk banget. Lumayanlah daripada gak kerja sama sekali, sekalian buat pengalaman kerja untuk menghiasi CV. Nah di NGO ini gue ditempatkan di bagian marketing (pastinya) dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar kantor.  Kantor-kantor yang dulunya gue masuk buat interview kerja di sana sekarang gue masuk lagi buat presentasi untuk kerja sama di NGO tempat gue kerja sekarang . Pelan – pelan gue mulai menikmati pekerjaan ini, marketing yang kebanyakan dihindari banyak orang justru itu yang membuat gue merasa tertantang. Pekerjaan inilsh yang bikin gue gak merasa bosan, bertemu dengan orang yang berbeda setiap hari, jalan-jalan ke sana kemari, dapat insentif yang lebih , belajar cara mempengaruhi org de el el pokoknya “gak bosenin”. Ketika kuliah gue sering dengar persepsi kalo marketing itu gak enak, capek, dan yg paling gak disukai ya itu cari nasabah (bilang aja gak mau gengsi). Yap lebanyakan orang gak mau bekerja di bidang marketing itu karena gengsi dan takut, gengsian yang merasa tamat kuliah itu harusnya di kantor (persepsi kebanyakan orang) dan takut karena gak berani ngapedin orang yang baru dikenal,, ya kan sodara2??
                Pernah sih gue ditempartin di kantor sebagai internet marketer krn Cuma gue dari rekan2 freelance yang bisa cari dana lewat dunia maya, Baru 3 hari gue udah minta pindah ke bagian lapangan.  3 hari di kantor pinggang gue sakit kebanyakan duduk, hidung gue meleeer berairi kena AC, mata perih dan waktu terasa laaaammmaaaa banget. Tandanya gue gak cocok di air. Entah kalo elo – elo pada pengen kerja kantoran. Kl gue masih muda dan masih ngejar karir, kalo di kantor itu susah naiknya bray.
                Kalo kita menikmati sesuatu maka waktu akan terasa sangat singkat. Gak terasa aja 2 bulan udah gue kerja dan sudah waktunya gue ninggalin ni NGO karena kongtrak gue habis. Gue merasa beruntung dan berterima kasih sekali kepada rekan2  kerja dan atasan udah ngasih ilmu yang luar biasa yang nantinya bakal berguna. Hari terkahir gue dapat pertama, yess biar kecil yang penting duit ndiri. Dengan uang gak seberapa gue pulang kampung buat ngerayain Lebaran bersama keluarga, indahnyaa.
                Gue lupa hari apa, gue dapat sms dari BNI buat tes ODP di Jakarta. Gue ngomong ke orang tua tentang ini dan mereka setuju, yang penting ridho orang tua nomor satu, ya gak sob. Lagian gue juga sebenarnya gak niat-niat amat kerja di bank yang penting ke Jakarta dulu berhubung di situlah 70 % perputaran uang dan otomatis lapangan kerja lebih banyak di sana. Gue pun ngikut alur, datang ke satu jobfair ke jobfair yang lain. Alhamdulillah gue gak lolos di BNI dan diterima di sebuah perusahaan ritel terkenal di Jakarta. 

Monday, August 20, 2012

Perfect Mom


“ Mama mau jualan donat di warung”  kata – kata itu telontar begitu saja. Saya yang masih duduk di kelas 3 sd waktu itu hanya diam saja. Waktu itu kami tinggal di asrama tentara di Siteba, Padang dan  adik saya masih berusia 3 tahun. Dengan bertambahnya jumlah anak maka pengeluaran juga bertambah. Penghasilan ayah saya yang hanya seorang anggota TNI – AD tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Saya masih ingat sering dimarahi lantaran suka minta uang jajan buat beli bakso, gorengan , mainan dan sejenisnya.  “ Gak ada jajan, gak ada uang”, ibu mengomel, kalau sudah begitu ya saya mundur dengan perasaan dongkol.
                Maka dari itu ibu saya ingin membantu ayah saya dengan berjualan. Dimulai dengan sepiring donat penuh , ibu membawanya ke warung dekat dengan mesjid tempat saya mengaji. Pagi diantar, sorenya diambil. Sornya pas mau diambil “ Masih banyak sisa nih buk, donatnya gak ngembang sih besok- besok donatnya harus ngembang biar banyak yang beli” saran yang punya warung kepada ibu. Sambuk mengicapkan terima kasih ibu membawa piring dengan donat  yang masih banyak itu ke rumah. Aku mencicipi donat itu dan…. keras, gak ada lembutnya sama sekali. Esoknya ibu belajar cara membuat donat yang benar dari tetangga yang jago memasak. Dirasa sudah enak , ibu membawa lagi donat  ke warung. Alhamdulillah, kali ini berhasil dagangan ibu laris manis. Besoknya ibu melakukan ekspansi, kali ini bukan hanya donat tapi ibu juga jualan bakwan dari 1 warung sekarang ibu jualan ke 5 warung .
                Aku dan abangku kebagian tugas membawa jualan kami ke warung – warung sekitar rumah sebelum berangkat ke sekolah.  Sorenya kami ambil kembali, kami hitung hasil pendapatan hari ini kalau ada donat dan bakwan berlebih ya kami makan atau kasih ke tetangga. Ayahku yang dulu menentang usaha ibuku karena gengsi sekarang malah balik ikut membantu membeli bahan baku, padahal dulu saking tidak sukanya sempat 3 hari ayah dan ibu tidak saling bicara tapi karena sekarang hasilnya jualan ibu lumayan dan kelihatan hasilnya , ayah jadi tidak marah lagi dan balik ikut membantu.
                Ayah dipindah tugaskan ke Martapura, terpaksa kami tidak jualan lagi dan ikut ayah. Di Martapura waktu tempatnya cukup terisolir,  asrama kami jauh dari pusat keramaian jadinya ibu tidak bisa jualan. Setelah 2 tahun ayah dipindah tugaskan lagi ke kampung halaman kami di Kab Kerinci, jambi. Karena kami belum punya rumah dan ibu saya tidak mau tinggal dengan  nenek maka kami tinggal di asrama tentara yang lumayan jauh dari rumah nenek. Adik saya sendiri bersekolah di sebuah SD yang berada di atas bukit. Kalau mau ke SD ini harus mendaki dulu  dan tidak ada satupun jajanan yang dijual  padahal muridnya lumayan banyak. Di sini naluri bisnis ibu saya muncul lagi, ibu jualan bakwan, donat, mie goreng, tahu isi dan aneka gorengan ke SD tempat adikku sekolah, sekalian mengantar adikku sekolah. Walau jauh ke atas tapi hasilnya jauh lebih besar daripada yang kami dapatkan dulu di Padang. Bayangkan saja, hanya ibu yang jualan jajanan di SD itu jadinya siswa – siswa di sana ya belanja di tempat ibu saya, hehe,,,, tentu saja barang dagangan ibu laris manis. Uang yang didapat dari jualan ibu tabung  dan hasilnya kami bisa membangun sebuah rumah dekat dengan rumah nenek kami. Rumah itu dibangun hanya dari jualan jajanan sekolah ibu, bukan dari gaji ayah saya.
                Akhirnya rumah selesai dibangun dan siap untuk dihuni dan ibu.. hahaha tetap saja walau tidak bisa jualan di sekolah lagi tapi tetap jualan, di depan rumah. Dengan modal meja panjang, ibu jualan gorengan bahkan menggoreng pun di sana, selesai digoreng langsung diletakkan di atas meja dan ada – ada saja orang yang datang untuk membeli. Nenek saya  saja sampai menggeleng – gelengkan kepala melihat tingkah ibu saya, “ gak dimana – dimana tetap aja jualan” ujar sang nenek.  Nah uang dari hasi jualan gorengan ini ibu tabung dan hasilnya ibu membuat warung kecil ukurang 3 x 4 m di depan rumah.
                Warung itu pun berdiri, aku dan abangku mulai mengisi warung kami dengan dagangan warung, hehe bukan gorengan lagi. Dan dasar ibu otak bisnisnya gak pernah mati, pagi – pagi setelah subuh ibu ke pasar membeli ikan, sayur, daging dan bahan masakan untuk dijual lagi. Tempat tinggal kami lumayan jauh dari pasar  karena itu ibu menjual bahan baku untuk masakan di warungnya sehingga warga di sini bisa beli bahan masakannya di warung ibu saja biar praktis, meja panjang yang dipakai untuk jualan gorengan itu kami jejerkan didepan warung dan kami letakkan semua bahan  baku itu di meja. Benar perkiraan ibu, dalam waktu singkat bahan baku habis dibeli dan mulai besok pagi ibu akan jualan  bahan baku masakan lagi. Meja itu sudah kosong, sorenya  meja itu dimanfaatkan ibu untuk meletakkan gorengan,tetap gorengan tidak pernah tinggal. Walaupun warung kami sama seperti warung kebanyakan, tapi dengan barang – barang yang dijual warung seperti kebanyakan, ditambah bahan baku masakan di pagi hari dan gorengan di sore hari, hasilnya menjadi Alhamdulillah. Dari hasil ibu berjualan seperti itu, selain rumah yang sudah saya jelaskan di atas, ibu dapat membiayaiku kuliah, membeli 1 unit mobil, dan 1 unit motor untuk adikku.
                Ibuku memang gak ada duanya, bermula dari niat membantu ayahku dalam mencukupi kebutuhan keluarga, sekarang hasilnya malah melebih dari niat itu. Cara – cara ibu berjualan, ibu ajarkan ke istri – istri tentara yang “menganggur” dan tidak melakukan apa – apa. “ Jangan gengsi” itu kata ibu saya kepada teman –temannya. “ Kalau kamu masih gengsian, ya gak dapat apa – apa, kalian masih aja tetap mengandalkan gaji suami, dengan gaji segitu bisa buat apa, kalian gak akan punya rumah walaupun pensiun nanti.  Saya mulainya juga dari kecil – kecilan, cobalah dulu nanti udah kalau ada untung walau kecil kalian akan semangat buat nambah lagi”, ceramah ibu saya kapada teman – temannya sesame istri tentara. Dalam hati saya bersyukur kepada Allah SWT, saya mendapatkan orang tua yang hebat , Ayah yang bekerja mengabdi untuk negara dan ibu bekerja untuk keluarga, sempurna bukan… ^_^.

ATS (Alumni Training Support)


Bagi kalian yang pernah mengikuti training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) pasti melihat sekelompok orang berpakaian hitam2 yang duduk di belakang para peserta training. Mereka adalah ATS (Alumni Training Support / Advanced Training service). ATS adalah alumni ESQ yang membantu dalam setiap training ESQ untuk kelancaran dan kesuksesan training tersebut. Para ATS ini tugasnya membantu dalam simulasi games, merapikan barisan peserta training, menegur peserta apabila peserta tersebut ribut atau mengganggu jalannya training.
Saya sendiri mengiktui training ESQ In House training Universitas Andalas (IHT UNAND) angkatan 1 tahun 2007 . Pada waktu itu saya mau tidak mau harus ikut karena kewajiban dari pihak kampus, tetapi ketika saya mengikuti training, saya merasakan ada yang menusuk di dalam hati saya. Training ini membuka mata hati saya tentang tujuan kita hidup sebenarnya, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga,  sekeras apau usaha kita, pasti akan mendapat balasannya bisa cepat atau ketika kita sudah menghadap sang  pencipta.
 Ketika break, saya melihat para ATS membersihkan lantai,memungut sampah tisu , membantu mengangkat kursi  dan membantu para peserta yang mengalami kesulitan.  Saya berpikir apa mereka digaji atau tidak, mengapa mereka memakai baju hitam-hitam? Ketika training berakhir, saya sangat ingin suasana ESQ itu hadir setiap saat di dalam diri saya untuk memuhasabah diri saya sendiri, makanya saya ingin menjadi ATS seperti mereka. Setelah training saya kembali ke asrama dan bertanya sana – sini bagaimana caranya menjadi ATS. Salah seorang teman saya mengatakan kalau mau jadi ATS harus datang sehari sebelum pelaksanaan training untuk ikut briefing.
Di briefing itulah saya tanya seluk beluk ATS kepada yang lebih senior.  “ATS itu seperti malaikat”, kata senior saya. “ Kita tidak digaji dengan uang, kita datang lebih awal dan pulang lebih lama dari para peserta, kamu kan sudah lihat ATS itu seperti apa kerjanya, kita harus selalu tersenyum dan sabar. Peserta itu memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda dan kita tidak boleh marah apabila ada peserta yang bandel dan tak mau diatur. Kalau kamu ingin belajar ikhlas dan sabar, jadilah ATS.”
Tiap tahunnya UNAND mewajibkan training ESQ kepada seluruh mahasiswa baru dan sertifikat ESQ digunakan sebagai syarat  untuk mengikuti ujian akhir. Karena mahasiswa baru UNAND jumlah nya  ± 5000 orang maka training dibagi menjadi 7 angkatan (14 hari).  Jam 6 pagi saya datang ke auditorium, mengikuti briefing, membagi tugas (kemanan, kapten dan asisten blog,registrasi dan games). Sore harinya briefing lagi untuk evaluasi kesalahan-kesalahan selama training. Tidak ada rasa letih apalagi bosan dalam melakukannya karena saya disini bertemu dengan teman baru dan rasa kekeluargaan yang dibangun sangat baik. Ketika semua rangkaian training selesai ada perasaan sedih yang hinggap di hati kami para ATS karena kami tidak akan bisa berkumpul dan bekerja sama lagi. Tidak ESQnya yang saya majukan tapi 165nya, 1 Ikhsan, 6 rukun iman dan 5 rukun Islam.

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Pages - Menu

Disqus for Deki Surmayanto

Featured Posts Coolbthemes